Nikmat Seteguk Minuman

Suatu kali Ibnus Sammak menemui Harun Ar-
Rasyid, lalu dia memberinya nasihat, hingga
membuat Ar-Rasyid menangis. Lalu dia meminta
air minum. Ibnus-Sammak bertanya, "Wahai
Amirul-Mukminin, andaikata minuman Tuan itu
tidak bisa diminum kecuali harus ditukar dengan
dunia dan seisinya. Apakah Tuan akan
menebusnya?"

"Ya," jawab Ar-Rasyid.

Ibnus-Sammak berkata, "Kalau begitu minumlah
dengan penuh kenikmatan, semoga Allah
memberkahi bagi Tuan."

Setelah Ar-Rasyid meminumnya, Ibnus-Sammak
bertanya lagi, "Wahai Amirul-Mukminin, bagaimana
pendapat Tuan jika minuman itu tidak bisa
dikeluarkan dari tubuh Tuan kecuali dengan dunia
dan seisinya, apakah Tuan akan menebusnya?"

"Ya," jawab Ar-Rasyid.

Ibnus-Sammak berkata, "Apa yang Tuan lakukan
terhadap seteguk minuman itu, maka itulah yang
terbaik."

Hal ini menjelaskan bahwa nikmat Allah yang
dilimpahkan kepada hamba, berupa seteguk
minuman saat haus, lebih besar nilainya daripada
seluruh kekayaan dunia.
Kemudian keluarnya kotoran dari badan dengan
cara yang mudah juga merupakan kenikmatan
yang besar. Ini merupakan isyarat yang sangat
sederhana tentang nikmat yang bersifat khusus.

Tidaklah ada seorang hamba yang memusatkan
perhatiannya, melainkan dia pasti akan melihat
nikmat-nikmat Allah yang teramat banyak, yang
banyak orang lain tidak mampu melihat seperti
yang dilihatnya. Tapi siapa yang berbuat seperti
yang diperbuatnya, tentu akan melihat seperti yang
dilihatnya pula.
Tidaklah ada seorang hamba melainkan dia ridha
terhadap Allah yang telah memberinya akal, dan
dia merasa yakin bahwa dialah orang yang paling
berakal, padahal Allah tidak mempertanyakan
akalnya, maka dia harus bersyukur kepada Allah
atas yang demikian itu.

Itu baru nikmat atas air dan pembuangannya saja,
belum dihitung dengan nikmat-nikmat lainnya.
Dengan cara apa kita bersyukur atas seluruh
nikmatnya?? Wallahu’alam bishowab. (Anisa
Riyanti)

Leave a Reply