Archive for May, 2005

BELAJAR DARI KELEDAI

Saturday, May 28th, 2005

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.


Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.


Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.
Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.


Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.  Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.


Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !


Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ’sumur’ (kesedihan, masalah, dsb.) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari ’sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.


Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.  Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!


Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

  1. Bebaskan dirimu dari kebencian

  2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

  3. Berilah lebih banyak

  4. Tersenyumlah

GUNCANGKANLAH !!!!

"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !"

Kisah Seekor Kupu-Kupu

Friday, May 6th, 2005

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu
hari lubang kecil muncul.
Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon
kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa
dirinya melewati lubang kecil itu.

Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat
kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha
semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk
membantunya.
Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa
kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.
Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil,
sayap-sayap mengkerut.

Orang tersebut terus mengamatinya karena dia
berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu
akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang
tubuhnya, yang mungkin akan berkembangseiring
dengan berjalannya waktu. Semuanya tak pernah
terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa
hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh
gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak
pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan
ketergesaan orang tersebut adalah bahwa
kepompong yang menghambat dan perjuangan yang
dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil
adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari
tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya
sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia
memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita
perlukan dalam hidup kita.
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan
perjuangan, mungkin justru akan melumpuhkan kita.
Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang
dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan
yang kita mintakan. Kita mungkin tidak akan
pernah dapat "Terbang"

Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Kita memohon Kekuatan…Dan Tuhan
memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat
kita tegar.

Kita memohon kebijakan…Dan Tuhan memberi kita
Berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan
agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran…Dan Tuhan memberi kita
Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya
dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati…Dan Tuhan memberi
Bencana dan Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon Cinta…Dan Tuhan memberi kita
orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan
dicintai.

Kita Memohon kemurahan / kebaikan hati…Dan
Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang
silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita…
Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya
inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan
segala yang saya butuhkan? Kadang Tuhan tidak
memberikan yang
kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan
yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak
mengerti / mengenal, bahkan tidak mau menerima
rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik
untuk kita.

Nikmat Seteguk Minuman

Friday, May 6th, 2005

Suatu kali Ibnus Sammak menemui Harun Ar-
Rasyid, lalu dia memberinya nasihat, hingga
membuat Ar-Rasyid menangis. Lalu dia meminta
air minum. Ibnus-Sammak bertanya, "Wahai
Amirul-Mukminin, andaikata minuman Tuan itu
tidak bisa diminum kecuali harus ditukar dengan
dunia dan seisinya. Apakah Tuan akan
menebusnya?"

"Ya," jawab Ar-Rasyid.

Ibnus-Sammak berkata, "Kalau begitu minumlah
dengan penuh kenikmatan, semoga Allah
memberkahi bagi Tuan."

Setelah Ar-Rasyid meminumnya, Ibnus-Sammak
bertanya lagi, "Wahai Amirul-Mukminin, bagaimana
pendapat Tuan jika minuman itu tidak bisa
dikeluarkan dari tubuh Tuan kecuali dengan dunia
dan seisinya, apakah Tuan akan menebusnya?"

"Ya," jawab Ar-Rasyid.

Ibnus-Sammak berkata, "Apa yang Tuan lakukan
terhadap seteguk minuman itu, maka itulah yang
terbaik."

Hal ini menjelaskan bahwa nikmat Allah yang
dilimpahkan kepada hamba, berupa seteguk
minuman saat haus, lebih besar nilainya daripada
seluruh kekayaan dunia.
Kemudian keluarnya kotoran dari badan dengan
cara yang mudah juga merupakan kenikmatan
yang besar. Ini merupakan isyarat yang sangat
sederhana tentang nikmat yang bersifat khusus.

Tidaklah ada seorang hamba yang memusatkan
perhatiannya, melainkan dia pasti akan melihat
nikmat-nikmat Allah yang teramat banyak, yang
banyak orang lain tidak mampu melihat seperti
yang dilihatnya. Tapi siapa yang berbuat seperti
yang diperbuatnya, tentu akan melihat seperti yang
dilihatnya pula.
Tidaklah ada seorang hamba melainkan dia ridha
terhadap Allah yang telah memberinya akal, dan
dia merasa yakin bahwa dialah orang yang paling
berakal, padahal Allah tidak mempertanyakan
akalnya, maka dia harus bersyukur kepada Allah
atas yang demikian itu.

Itu baru nikmat atas air dan pembuangannya saja,
belum dihitung dengan nikmat-nikmat lainnya.
Dengan cara apa kita bersyukur atas seluruh
nikmatnya?? Wallahu’alam bishowab. (Anisa
Riyanti)

Kayfa…

Friday, May 6th, 2005

sahabat…
kalau kau tanya apa kabarku
inilah diriku…
saat ini….
ku masih cadel mengeja hurufNya
ku masih tertatih menapaki jalanNya
ku masih menata hati untukNya

sahabat…
kalau kau tanya apa mimpiku
inilah cita-citaku…
saat nanti
ku harap…
ku bisa menatapNya
ku bisa duduk bersama kekasihNya
ku bisa berkumpul dengan orang yang kucinta

sahabat….
kalau kau tanya apa harapanku
ku ingin….
saat ini…
saat nanti…..
ku bisa ……….
meniti pelangi cintaNya
merajut renda rahmatNya
melukis karuniaNya
tunduk menjumputi kebeninganNya
tersungkur menorehkan jiwa untukNya

(muji)

Nenek Pemungut Daun

Friday, May 6th, 2005

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang
nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual
bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup
jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota
itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan
salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya,
ia keluar masjid dan membungkuk- bungkuk di
halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang
berceceran di halaman masjid. Selembar demi
selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia
lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan
halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari
Madura di siang hari sungguh menyengat.
Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.
Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk
membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan
tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan
langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin
melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak
ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi
ke masjid dan menangis dengan keras. Ia
mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah
disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang
menjelaskan bahwa mereka kasihan
kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata
nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk
membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan
dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat
diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu
mengapa ia begitu bersemangat membersihkan
dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan
sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai
yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu
tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda
dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,"
tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu
mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya
tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa
syafaat RosulAlloh SAW. Setiap kali saya
mengambil selembar daun, saya ucapkan satu
salawat kepada RosulAlloh SAw. Kelak jika saya
mati, saya ingin RosulAlloh SAW menjemput
saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya
membacakan salawat kepadanya." (Anisa Riyanti)

Telaga Cermin

Friday, May 6th, 2005

Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah
kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal
beberapa harimau muda yang baru mulai belajar
berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat
menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari
tantangan.

Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang
belum terjamah. Matanya terlihat waspada
mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya
menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam.
Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang
terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut,
ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di
sana. "Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam
air."

Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat
harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-
geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau
dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat
kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya,
oh, ternyata harimau telaga itu masih ada.
Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada
balasan senyum dari arah telaga. "Akan kuberitahu
yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang
tinggal di tempat ini."

Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera
diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang
tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah
beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan
berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan
sekeliling. Ups.. kakinya hampir terperosok ke
dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya
menyembulkan kepalanya ke arah lubang
telaga. "Hei…ada harimau yang sedang marah di
dalam sana," begitu pikirnya dalam hati. Harimau
itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh
taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah.
Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak
kalah, dan melakukan tindakan serupa.

"Ah, temanku tadi pasti berbohong." Tak ada
harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja
dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah,
dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman
dengan harimau dalam telaga itu." Harimau yang
masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya
ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga
itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

***

Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin
dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita
terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang
kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari
perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan
buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan
balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan
air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan
yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar
untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan
mengatakan kepada orang di dalam cermin itu.
Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami
seluruh wajah itu dan berkata, "Sudahkah saya
menemukan wajah yang bersahabat di dalam
sana?" Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-
dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, "Sudahkah
kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?"
(echa)