Oh Tuhan, aku ingin menjahitkan sepatuMu & menyisirkan rambutMu

August 5th, 2005 by atlathif

JALALUDDIN Rumi, seorang penyair Sufi besar dari Persia pada abad ke-13, pernah menuliskan kisah Nabi Musa yang diajarkan Tuhan untuk bersikap toleran terhadap pemahaman yang berbeda, yang dituangkan dalam bait-bait puisinya yang indah dalam Masnawi.

Puisi ini telah diterjemahkan dari bahasa Persia oleh Nicholson dengan judul The Shepherd’s Prayer by Rumi in RA Nicholson’s Rumi, Poet and Mystic, London, 1950. Berikut terjemahan bebasnya:

"Ketika Musa sedang berjalan, ia mendengar seorang penggembala yang sedang berdoa sambil meratap. ‘Oh Tuhan di manakah gerangan Engkau, karena aku ingin melayani-Mu dan menjahitkan sepatu-Mu, dan menyisirkan rambut-Mu. Aku ingin mencucikan baju-Mu, membunuh kutu kepala-Mu dan membawakan susu untuk-Mu, oh Duhai yang maha terpuji."

Mendengar kata-kata yang dianggap bodoh tersebut, Musa berkata, "Kepada siapa kamu berbicara? Betapa kata-kata itu tidak bermakna; memalukan dan liar! Sumbat mulutmu dengan kapas!… Tuhan yang Maha Agung tidak memerlukan pelayanan seperti itu."

Sang penggembala menjadi amat kecewa dan sedih, dan ia merobek bajunya sambil pergi ke arah yang tidak menentu. Kemudian datang wahyu Tuhan kepada Musa:
"Kamu telah memisahkan hamba-Ku dari Aku…Aku telah anugerahkan kepada setiap manusia cara berdoa masing-masing; Aku telah berikan cara khusus kepada masing-masing untuk berekspresi. Bahasa yang digunakan oleh orang Hindustan adalah sangat indah bagi pemeluk Hindu, begitu pula bahasa Sindhu yang amat indah bagi pemeluk Sindhu.

Aku tidak melihat pada ucapan lidah, tetapi Aku melihat ke dalam sanubari dan perasaan terdalam hati manusia. Aku melihat ke dalam hati manusia untuk melihat apakah ada kerendahhatian, walaupun ucapannya tidak menunjukkan demikian. Cukuplah sudah segala macam ungkapan dan metofora!

Biarkan Tuhan yang Menilaimu

August 5th, 2005 by atlathif

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka, bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh, dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi, teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok akan dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas
perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

(Mother Theresa)

BELAJAR DARI KELEDAI

May 28th, 2005 by atlathif

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.


Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.
Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.


Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.
Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.


Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.  Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.


Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !


Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ’sumur’ (kesedihan, masalah, dsb.) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari ’sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.


Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.  Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!


Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

  1. Bebaskan dirimu dari kebencian

  2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

  3. Berilah lebih banyak

  4. Tersenyumlah

GUNCANGKANLAH !!!!

"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !"

Kisah Seekor Kupu-Kupu

May 6th, 2005 by atlathif

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu
hari lubang kecil muncul.
Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon
kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa
dirinya melewati lubang kecil itu.

Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat
kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha
semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk
membantunya.
Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa
kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.
Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil,
sayap-sayap mengkerut.

Orang tersebut terus mengamatinya karena dia
berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu
akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang
tubuhnya, yang mungkin akan berkembangseiring
dengan berjalannya waktu. Semuanya tak pernah
terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa
hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh
gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak
pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan
ketergesaan orang tersebut adalah bahwa
kepompong yang menghambat dan perjuangan yang
dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil
adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari
tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya
sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia
memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita
perlukan dalam hidup kita.
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan
perjuangan, mungkin justru akan melumpuhkan kita.
Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang
dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan
yang kita mintakan. Kita mungkin tidak akan
pernah dapat "Terbang"

Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Kita memohon Kekuatan…Dan Tuhan
memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat
kita tegar.

Kita memohon kebijakan…Dan Tuhan memberi kita
Berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan
agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran…Dan Tuhan memberi kita
Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya
dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati…Dan Tuhan memberi
Bencana dan Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon Cinta…Dan Tuhan memberi kita
orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan
dicintai.

Kita Memohon kemurahan / kebaikan hati…Dan
Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang
silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita…
Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya
inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan
segala yang saya butuhkan? Kadang Tuhan tidak
memberikan yang
kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan
yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak
mengerti / mengenal, bahkan tidak mau menerima
rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik
untuk kita.

Nikmat Seteguk Minuman

May 6th, 2005 by atlathif

Suatu kali Ibnus Sammak menemui Harun Ar-
Rasyid, lalu dia memberinya nasihat, hingga
membuat Ar-Rasyid menangis. Lalu dia meminta
air minum. Ibnus-Sammak bertanya, "Wahai
Amirul-Mukminin, andaikata minuman Tuan itu
tidak bisa diminum kecuali harus ditukar dengan
dunia dan seisinya. Apakah Tuan akan
menebusnya?"

"Ya," jawab Ar-Rasyid.

Ibnus-Sammak berkata, "Kalau begitu minumlah
dengan penuh kenikmatan, semoga Allah
memberkahi bagi Tuan."

Setelah Ar-Rasyid meminumnya, Ibnus-Sammak
bertanya lagi, "Wahai Amirul-Mukminin, bagaimana
pendapat Tuan jika minuman itu tidak bisa
dikeluarkan dari tubuh Tuan kecuali dengan dunia
dan seisinya, apakah Tuan akan menebusnya?"

"Ya," jawab Ar-Rasyid.

Ibnus-Sammak berkata, "Apa yang Tuan lakukan
terhadap seteguk minuman itu, maka itulah yang
terbaik."

Hal ini menjelaskan bahwa nikmat Allah yang
dilimpahkan kepada hamba, berupa seteguk
minuman saat haus, lebih besar nilainya daripada
seluruh kekayaan dunia.
Kemudian keluarnya kotoran dari badan dengan
cara yang mudah juga merupakan kenikmatan
yang besar. Ini merupakan isyarat yang sangat
sederhana tentang nikmat yang bersifat khusus.

Tidaklah ada seorang hamba yang memusatkan
perhatiannya, melainkan dia pasti akan melihat
nikmat-nikmat Allah yang teramat banyak, yang
banyak orang lain tidak mampu melihat seperti
yang dilihatnya. Tapi siapa yang berbuat seperti
yang diperbuatnya, tentu akan melihat seperti yang
dilihatnya pula.
Tidaklah ada seorang hamba melainkan dia ridha
terhadap Allah yang telah memberinya akal, dan
dia merasa yakin bahwa dialah orang yang paling
berakal, padahal Allah tidak mempertanyakan
akalnya, maka dia harus bersyukur kepada Allah
atas yang demikian itu.

Itu baru nikmat atas air dan pembuangannya saja,
belum dihitung dengan nikmat-nikmat lainnya.
Dengan cara apa kita bersyukur atas seluruh
nikmatnya?? Wallahu’alam bishowab. (Anisa
Riyanti)

Kayfa…

May 6th, 2005 by atlathif

sahabat…
kalau kau tanya apa kabarku
inilah diriku…
saat ini….
ku masih cadel mengeja hurufNya
ku masih tertatih menapaki jalanNya
ku masih menata hati untukNya

sahabat…
kalau kau tanya apa mimpiku
inilah cita-citaku…
saat nanti
ku harap…
ku bisa menatapNya
ku bisa duduk bersama kekasihNya
ku bisa berkumpul dengan orang yang kucinta

sahabat….
kalau kau tanya apa harapanku
ku ingin….
saat ini…
saat nanti…..
ku bisa ……….
meniti pelangi cintaNya
merajut renda rahmatNya
melukis karuniaNya
tunduk menjumputi kebeninganNya
tersungkur menorehkan jiwa untukNya

(muji)

Nenek Pemungut Daun

May 6th, 2005 by atlathif

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang
nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual
bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup
jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota
itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan
salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya,
ia keluar masjid dan membungkuk- bungkuk di
halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang
berceceran di halaman masjid. Selembar demi
selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia
lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan
halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari
Madura di siang hari sungguh menyengat.
Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.
Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk
membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan
tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan
langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin
melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak
ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi
ke masjid dan menangis dengan keras. Ia
mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah
disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang
menjelaskan bahwa mereka kasihan
kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata
nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk
membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan
dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat
diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu
mengapa ia begitu bersemangat membersihkan
dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan
sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai
yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu
tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda
dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,"
tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu
mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya
tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa
syafaat RosulAlloh SAW. Setiap kali saya
mengambil selembar daun, saya ucapkan satu
salawat kepada RosulAlloh SAw. Kelak jika saya
mati, saya ingin RosulAlloh SAW menjemput
saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya
membacakan salawat kepadanya." (Anisa Riyanti)

Telaga Cermin

May 6th, 2005 by atlathif

Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah
kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal
beberapa harimau muda yang baru mulai belajar
berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat
menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari
tantangan.

Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang
belum terjamah. Matanya terlihat waspada
mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya
menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam.
Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang
terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut,
ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di
sana. "Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam
air."

Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat
harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-
geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau
dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat
kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya,
oh, ternyata harimau telaga itu masih ada.
Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada
balasan senyum dari arah telaga. "Akan kuberitahu
yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang
tinggal di tempat ini."

Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera
diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang
tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah
beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan
berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan
sekeliling. Ups.. kakinya hampir terperosok ke
dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya
menyembulkan kepalanya ke arah lubang
telaga. "Hei…ada harimau yang sedang marah di
dalam sana," begitu pikirnya dalam hati. Harimau
itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh
taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah.
Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak
kalah, dan melakukan tindakan serupa.

"Ah, temanku tadi pasti berbohong." Tak ada
harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja
dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah,
dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman
dengan harimau dalam telaga itu." Harimau yang
masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya
ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga
itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

***

Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin
dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita
terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang
kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari
perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan
buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan
balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan
air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan
yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar
untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan
mengatakan kepada orang di dalam cermin itu.
Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami
seluruh wajah itu dan berkata, "Sudahkah saya
menemukan wajah yang bersahabat di dalam
sana?" Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-
dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, "Sudahkah
kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?"
(echa)

Kemana Kulangkahkan Kaki ?

April 29th, 2005 by atlathif

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Hidup adalah pilihan….

Hidup adalah perjuangan…..

Hidup adalah persaingan tuk meraih kemenangan….

Begitulah sejuta jargon tentang hidup diinterpretasikan

Namun…, kalo boleh mari kita berfikir sejenak

Apa sech yang disebut kehidupan yang enak ?

Apakah ketika kita dipuja sejuta wanita / pria ?

Apakah ketika kita meraih kedudukan puncak dalam tahta ??

Apakah ketika berhasil mengumpulkan berjuta harta benda ???

Ataukah ketika meraih sukses studi di manca negara ???

Atau ketika menimbulkan decak kagum antar sesama ???

Atau mungkin kecantikan / ketampanan yang menebar pesona ???

Kalau itu yang kita banggakan…..

Kalau semua itu yang kita kejar dan lebih diutamakan…

Kalau kesibukan selama ini yang diper-tuhan-kan…..

Mungkin kita sedang mengkerdilkan pola ke-hamba-an….

Kita perlu merenungkan…..

Bahwa selama ini kita sering jadi objek kesibukan…..

Dan gak pernah kita menjadi subjek kehidupan….

Itulah sebabnya kita berlindung di bukit terjal bernama " Kesibukan "

Sejuta alasanpun sering terungkap karena " kesibukan "

Bahkan " kesibukan " sering disamarkan dengan " harapan "

Kita slalu di-organize oleh harapan…

Dan kita gak pernah men-drive kehidupan

Sahabat sekalian……

Ketika musibah demi musibah terus berdatangan….

Mulai dari lautan, tumpukan sampah, sampai pegunungan….

Tidakkah menjadi bahan renungan….

Akan hakekat dan makna kehidupan….

Ketika air mata Aceh masih membasahi relung hati

Kini Nias menjerit….mengusik nurani….

Meski mereka jauh di mata….

Teriakannya tak terdengar ke mana - mana…

Tapi isak tangis…dan guratan lukanya….

Sampai ke sini …ke hati ini……

Dan pada siapapun yang merasakan getar bathin sesama anak manusia

Oleh karenanya mari kita panjatkan doa pada yang Maha Kuasa

Agar mereka diberi ketabahan…..

Namun sekaligus….kita refleksikan pada diri kita….

Bagaimana seandainya musibah itu datang pada kita….

Pada keluarga dan handai taulan kita…..

Yang akan memisahkan ikatan lahir kita…

Selamanya….ya selamanya…..

Wahai sahabatku sekalian….

Sudah siapkah kita menyambut datangnya Sang Ajal ???

Ya…datang menjajal secara tiba - tiba….

Tanpa pemberitahuan dan aba - aba…

Tanpa pandang bulu dan kasta…..

Geliak terkaman yang siap memangsa….

Seluruh jiwa - jiwa yang merasa hampa dan ternoda ….

Merana dalam dusta dan nestapa….

Yang sering mengagungkan harta benda ….

Dan seluruh kedigjayaan fatamorgana….

Sahabat…

Kan kemanakah kita langkahkan kaki ?

Kan bagaimanakah kita men-drive " hati "

Agar kita menjadi sahabat sejati…

Nun jauh dalam lubuk hati sanubari ini…..

Ingin kukatakan……

Mari menjadi hamba Tuhan yang beriman

Yang senantiasa taat dan patuh pada segala ketentuan

( Ada ikatan terdalam yang tak lekang dimakan zaman )

( Antara hatimu dan hatiku yang tlah terikat tali pesahabatan )

( Coretan kilat seorang sahabat…sebelum matahari terbenam )

( Tuk saling mengingatkan dalam menapaki setiap kerikil kehidupan )